Efek Rumah Kaca & Global Warming

Kali ini saia akan membahas tentang sebuah istilah yang cukup umum bagi masyarakat berpendidikan pada umumnya, yaitu Efek Rumah Kaca. Makanan apa itu Efek Rumah Kaca?? Sayang sekali itu bukanlah makanan.


Efek Rumah Kaca merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk proses terjadinya pemanasan pada bumi yang diakibatkan oleh radiasi sinar matahari dan komposisi gas pada atmosfir bumi. Bingung? Biar saya perjelas. Jadi begini… Pada suatu hari yang damai   Bumi kita tercinta ini sebenarnya dilapisi oleh berbagai zat gas yang memiliki fungsi masing-masing. Salah satunya adalah gas yang disebut dengan ozon. Gas yang terdapat pada lapisan stratosfer bumi ini berfungsi untuk menyaring sinar UV yang dipancarkan oleh matahari agar tidak seluruhnya masuk ke dalam bumi.  Ketika sinar matahari mengenai atmosfer serta permukaan bumi, sekitar 70% dari energi tersebut tetap tinggal di bumi, diserap oleh tanah, lautan, tumbuhan serta benda-benda lainnya seperti ozon tadi. Sedangkan 30 % sisanya dipantulkan kembali melalui awan, hujan serta permukaan reflektif lainnya. Tetapi panas yang 70 % tersebut tidak selamanya ada di bumi. Benda-benda di sekitar planet yang menyerap cahaya matahari seringkali meradiasikan kembali panas yang diserapnya. Sebagian panas tersebut masuk ke ruang angkasa, tinggal di sana dan akan dipantulkan kembali ke bawah permukaan bumi ketika mengenai zat yang berada di atmosfer, seperti karbon dioksida, gas metana dan uap air. Panas tersebut yang membuat permukaan bumi tetap hangat dari pada di luar angkasa, karena energy lebih banyak yang terserap dibandingkan dengan yang dipantulkan kembali. Itulah peristiwa yang disebut dengan efek rumah kaca (green house effect).
Efek Rumah Kaca sebenarnya sangat berguna untuk menghangatkan bumi kita tercinta. Namun yang jadi masalah, semakin terkikisnya lapisan ozon dan gas-gas yang berfungsi menyerap serta memantulkan radiasi matahari, membuat Efek Rumah Kaca yang semakin tidak terkendali. Hal inilah yang disebut dengan Pemanasan Global (Global Warning). Akibat dari peristiwa ini, daerah kutub utara yang esnya diperkirakan masih akan bertahan sampai ribuan tahun , sudah mulai mengalami pencairan yang cukup signifikan dikarenakan Global Warming tadi, dan jika tidak ada pembenahan, maka diperkirakan tidak sampai 100 tahun ke depan bumi kita akan tenggelam karena berton-ton es yang telah mencair di daerah Kutub. Sebenarnya masih banyak lagi akibat buruk dari Global Warming, tapi tidak akan saia bahas satu-satu karena nantinya saia bisa seperti menulis sebuah novel. Yang jelas, disini saia mengajak seluruh warga Indonesia dan dunia tentunya, agar kita melestarikan lapisan pelindung bumi dari radiasi sinar matahari yang tidak terkendali, salah satunya dengan mengurangi polusi berupa emisi dan gas-gas karbon yang berlebihan. Mungkin dalam postingan saia berikutnya, akan saia bahas mengenai hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya Global Warning.

3 komentar: